COACHING SEBAGAI PEMBUKA POTENSI

“Coach hebat tidak dilahirkan atau dibuat. Coach yang hebat memilih menjadi coach yang hebat.”

– Dr. Stephen R. Covey –

Sukses sebagai pemimpin bukanlah hal yang mudah. Sebagai seorang pemimpin, kesuksesan Anda bisa diukur secara langsung dari kesuksesan mereka yang bekerja di tim Anda. Pada dasarnya, kesuksesan mereka adalah kesuksesan Anda. Anggota tim dan Anda saling mengandalkan untuk mencapai kesuksesan. Dengan demikian, apakah Anda seorang CEO, administrator pemerintah, manajer departemen, pemimpin proyek, atau di posisi pemimpin lainnya, Anda perlu mengetahui cara melakukan coaching terhadap tim Anda.

Saat ini, kebutuhan akan pembinaan yang efektif telah menjadi isu yang urgen bagi organisasi-organisasi di hampir semua industri.

Penelitian Gallup menunjukkan bahwa tim yang sangat terlibat (engaged) memiliki peluang dua kali lebih besar untuk menampilkan kinerja dan kesuksesan dalam pekerjaan. Artinya, pekerja yang terlibat menjadi lebih produktif, menguntungkan, setia, dan fokus pada pelanggan (eksternal dan internal).

Poin penting lain dari penelitian Gallup adalah manajer (atasan) langsung memiliki pengaruh paling besar pada tingkat dan kualitas keterlibatan pekerja. Itu sebabnya setiap pemimpin, manajer, atau supervisor harus mampu menjadi coach yang hebat.

Di era ketika pekerja dituntut untuk berbuat lebih banyak dengan jumlah personel lebih sedikit, mereka bisa saja ‘pergi’ setiap saat (diss-engaged). Peran penting seorang coach adalah membangun keterlibatan tim. Namun sayangnya, kebanyakan pemimpin tidak siap untuk melakukannya. Seringkali, para pemimpin ini memiliki keterampilan fungsional yang hebat, pengetahuan teknis, keahlian, dan pelatihan dalam manajemen bisnis, keuangan, akuntansi, operasi, penjualan, pemasaran, teknik, legal, atau sains. Sebaliknya, mereka tidak tahu bagaimana menjadi seorang coach yang efektif.

Salah satu klien saya adalah seorang direktur perusahaan yang cukup ternama di Surabaya. Dalam salah satu sesi coaching kami, beliau mengatakan kepada saya, “Ketika lulus dari sekolah bisnis, saya mendapat prestasi akademis yang boleh dibilang outstanding, memiliki bekal yang memadai untuk melakukan analisa strategis, juga kajian market secara makro. Tapi apa yang saya tidak pernah dilatih dan disiapkan adalah menjadi coach bagi orang-orang saya.”

“Hari pertama saya diminta memimpin perusahaan keluarga, saya tentunya membawahi secara langsung departemen-departemen dan pegawai yang tidak sedikit. Saya pun memiliki rekan kerja yang perlu saya ajak kerja sama. Sementara, saya sama sekali tidak pernah mendapatkan pelatihan tentang cara menginspirasi mereka, membantu mereka meningkatkan kinerja, atau menyingkirkan hambatan tim.”

“Saya paham benar, semua yang saya lakukan dalam peran saya sebagai pemimpin harus dilakukan dengan dan melalui orang lain. Saya harus mencapai tujuan dengan orang lain. Bila dipikirkan, semua hal tersebut bergantung pada apa yang tidak pernah diajarkan kepada saya. Sebagian besar eksekutif dan tim di perusahaan saya mengatakan hal yang sama. Yang menarik adalah orang justru menginginkan Anda meng-coach mereka.“

Pada tahun 2008, dilakukan survei terhadap sepuluh ribu orang dan menanyakan apakah mereka ingin memiliki seorang coach dan apa alasan yang mendasarinya. Hampir semua responden mengatakan mereka terbuka untuk menerima coaching. Tiga puluh persen di antaranya menginginkan coaching untuk membantu mereka di area kehidupan, tujuan, visi, kreativitas, dan integritas. Tujuh belas persen mengatakan mereka membutuhkan bantuan agar lebih sukses dalam aktivitas kewirausahaan dan menghadapi permasalahan tim, penjualan, serta isu diversivity. Enam belas persen menyebutkan kebutuhan coaching di area kepemimpinan dan manajemen. Delapan persen menginginkan dukungan di area hubungan (relasi) dan delapan persen lainnya mengharapkan bantuan dalam transisi karir, perencanaan pekerjaan, dan pengembangan karir di masa depan. Banyak juga responden yang meminta bantuan terkait perubahan perilaku, efektivitas kepemimpinan, dan work-life balance.

Jelas, coaching bukan hanya tentang organisasi atau tim. Coaching adalah tentang orang. Dan ini mungkin tampak seperti tugas yang berat, tugas yang membutuhkan lebih dari yang Anda dapatkan dalam pelatihan bisnis. Tidak ada juri atau penilai yang mengawasi Anda saat melakukan coaching dan memberi tahu apakah Anda melakukan tugas dengan baik atau tidak. Untuk menjadi seorang coach yang baik, Anda perlu menguasai standar kompetensi dan kode etik profesional sebagai seorang coach.

Banyak dari apa yang sudah kita lakukan sehari-hari dalam rangka memberikan bimbingan dan dukungan kepada tim maupun rekan kerja ‘dipersepsi’ sebagai coaching. Yang perlu dipahami adalah coaching bukanlah konsultasi, mentoring, evaluasi, memberikan saran atau umpan balik. Coaching adalah seperangkat kompetensi, keterampilan, perilaku tertentu, dan di dalamnya membutuhkan niat dan karakter yang baik.

Coaching adalah pendekatan untuk melepaskan atau membuka potensi manusia. Definisi ini menarik, mengingat potensi manusia benar-benar tidak terbatas dan sangat personal. Setiap orang memiliki kekuatan dan tantangan yang unik.

Dalam perjalanan hidup, kita semua memiliki coach yang telah membantu kita selama ini. Saya yakin, mereka lebih dari sekadar atasan atau trainer. Mereka tidak hanya berbicara tentang kebiasaan dan kinerja bisnis kita, tetapi juga tentang kehidupan pribadi dan kemajuan kita sebagai pribadi. Faktanya, terkadang coach terbaik kita adalah rekan kerja, pasangan, dan teman — orang yang tidak memiliki otoritas untuk berbicara secara organisatoris. Mereka adalah orang yang kita percayai untuk membantu menemukan AHA! Moment, membangkitkan kesadaran diri atau situasi yang sedang kita hadapi. Mereka yang mampu mengeksplorasi potensi, ide-ide dan kreatifitas kita. Mereka yang mampu meledakkan diri terbaik kita.

Coaching adalah tentang memberikan dampak positif dan konstruktif pada pola pikir, hati, dan perilaku seseorang sehingga orang tersebut tidak pernah sama lagi – melainkan menjadi pribadi yang lebih berkembang, lebih baik, lebih berdaya.

Coaching adalah tentang membangun hubungan kepercayaan, mendorong potensi seseorang, menciptakan komitmen, dan mengeksekusi tujuan. Kepercayaan, potensi, komitmen, dan eksekusi menjadi kata kunci yang penting dalam proses coaching.

Kata coaching sendiri berasal dari kata ‘coach’ secara harfiah — kereta beroda yang dahulu ditarik oleh kuda dan membawa orang dari satu tempat ke tempat lain. Pada tahun 1800-an, mahasiswa akan mencari seseorang untuk ‘membawa’ mereka menghadapi ujiannya, seseorang yang mereka percaya untuk membantu mereka berprestasi dan membuat mereka tetap berkomitmen — dan mereka secara tidak resmi menyebut orang ini sebagai ‘coach’. Sebagai seorang coach, tugas Anda adalah membantu individu menerobos dari satu tingkat kinerja ke tingkat kinerja yang lebih baik, lebih tinggi, lebih luas, lebih ekselen.

Hidup terdiri dari serangkaian ujian, tantangan, dan kesempatan besar. Beberapa di antaranya bersifat momentum. Tetapi nyatanya, kebanyakan membutuhkan daya tahan. Coaching adalah tahapan pengembangan profesional dan pribadi yang menjadi momen penentu masa depan.

#people_development_consultings
#coffeecoaching
#vanda.rossdiana

Referensi
Columbia University Business School Research, 2008.

Perlu Materi Yang Lain?

WE'RE Here To SUPPORT You

Feel free to contact us, and we will be more than happy to answer all of your questions.